Cari di Sini

Rabu, 13 Maret 2013

Perkiraan Hasil Penjualan Tiket Latber


Untuk urusan bisnis, target utama dalam penyelenggaraan latber adalah bagaimana tiket bisa terjual habis. Tentu EO yang baik tidak sekadar memikirkan masalah bisnis semata, tetapi bagaimana dapat memberikan pelayanan yang baik kepada semua peserta, komunikatif terhadap mereka, terlebih bisa membangun suasana kebersamaan dan persaudaraan dengan mereka.
Tetapi, apa boleh buat, saya harus menjelaskan urusan bisnis ini. Tiket latber per sesi biasanya dicetak maksimal 60 lembar. Untuk even lomba bisa lebih. Dari 60 lembar, itu pun tidak selalu habis. Bahkan bisa mencapai separo saja sudah bagus untuk EO yang baru berdiri.
Untuk mengantar Anda kepada pemahaman mengenai potensi pemasukan hasil penjualan tiket, silakan lihat tabel di bawah ini:
estimasi-pemasukan-hasil-tiket
Pada tabel di atas, saya sengaja hanya menggunakan angka kelipatan 5 dan dimulai dari angka 10 karena keterbatasan ruang. Maksudnya, sangat mungkin terjadi jumlah peserta di bawah 10 per sesi (misalnya hanya enam burung saja). Sangat mungkin terjadi pula jumlah peserta 13, 16, 32, dan seterusnya yang tidak berkelipatan 5. Jadi, ini sekadar contoh untuk memudahkan saja.
Situasi dan kondisi lainnya adalah tidak mungkin jumlah peserta di kelas cucak ijo, misalnya, sama persis dengan jumlah peserta di kelas lovebird. Bahkan jumlah peserta lovebird di Kelas 30K (tiket Rp 30.000) belum tentu sama dengan jumlah peserta lovebird di Kelas 20K (tiket Rp 20.000).
Tabel di atas sekadar melukiskan gambaran pemasukan dari hasil penjualan tiket, sekiranya sesi tertentu diikuti peserta dalam jumlah sekian. Tabel ini bisa dijadikan bekal untuk membuat target. Misalnya pleci yang sekarang lagi ramai, ditarget bisa diikuti lebih dari 30 peserta di Kelas 30K dan 40 peserta di Kelas 20K. Pentet, mungkin di daerah Anda sedang susut pamor, diberi target yang berbeda dari kelas pleci, demikian seterusnya.
Dari target per kelas dan per sesi inilah, Anda bisa memperkirakan total pemasukan dari hasil penjualan tiket. Ketika target meleset, Anda harus bersedia merevisi target untuk even latber berikutnya. Bahkan, kalau peminatnya benar-benar sepi, Anda bisa menghilangkan jenis burung tertentu di Kelas 30K atau Kelas 20K, atau dihilangkan dari dua kelas sekaligus.
Coba kita amati, dulu cucakrowo selalu dilatberkan, tetapi sekarang tidak selalu. Demikian pula dengan branjangan, blackthroat, dan sebagainya. Di sisi lain, dalam sejumlah even di Provinsi Bangka-Belitung, Riau, dan Kepulauan Riau, kelas serindit dan sangat diminati kicaumania. Hal ini menunjukkan setiap EO harus pandai-pandai mencari celah agar tiap sesi yang dibuka selalu dibanjiri peserta, termasuk dengan “memuliakan” burung-burung lokal.
Posting Komentar