Cari di Sini

Sabtu, 21 Mei 2016

Burung Kedasih, Antara Mitos Kematian dan Fakta Ratu Tega



Kehadiran burung ini paling tak diharapkan. Konon katanya, kicauannya amat menakutkan. Karena kerap dikaitkan dengan penanda adanya kematian di sekitar keberadaan sang burung.
Meski sangat sulit dijelaskan dalam sebuah kajian ilmiah, mitos atas burung ini terlanjur melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Dan tak heran jika para penghobi burung sangat jarang ada yang mau untuk memeliharanya. 

Mendengar suaranya saja sudah bikin merinding. Apalagi untuk memeliharanya. Burung ini bernama Kedasih.

Dalam bahasa ilmiahnya burung ini memiliki nama Cuculus merulinus. Di beberapa daerah di Indonesia memilikii beragam nama, ada yang menyebutnya burung Kedasih, daradasih, untit untit, Srintit sirit uncuing, dan emprit gantil. 

Dalam mitos, burung ini menyebalkan karena bikin was-was akan adanya kematian. Rupanya dalam kenyataan, burung ini memang memiliki prilaku licik dan kejam. Sangat tidak layak untuk ditiru. Burung kedasih betina dan jantan tak mau bertanggung jawab akan hadirnya anak atas hasil perkawinan mereka. Istilah mudahnya, mau enak tapi nggak mau repot!

Kedasih tidak pernah mau repot membuat sarang untuk bertelur dan mengerami telur-telurnya. Kedasih justru menitipkan telur di dalam sarang milik burung-burung lain yang memiliki ukuran lebih kecil. 

 Teganya lagi, sudah menitipkan telur, kadang Kedasih malah merusak telur-telur milik induk yang dititipi. Setelah menitipi telur-telurnya, Kedasih akan mencari pasangan baru lagi. Kemudian bertelur lagi dan menitipkan telur lagi. Begitu seterusnya. Oleh karena itu, burung kedasih kerap disebut Ratu Tega.

Sumber: Bintang
Posting Komentar